Jumat, 22 Februari 2013

Irena Handono: Paus Benedictus XVI Akui 25 Desember Bukan Hari Natal

Jakarta (SI ONLINE)- Kabar mengejutkan justru datang dari Pusat Pemerintahan Katolik Dunia, Vatican. Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma, Paus Benedictus XIV mengakui, hari kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa AS) atau Hari Natal bukan tanggal 25 Desember sebagaimana yang selama ini diperingati umat Kristen di seluruh dunia. Namun Paus sendiri juga tidak mengetahui kapan tepatnya hari kelahiran Nabi Isa AS yang difitnah dan dijadikan sebagai anak Tuhan itu. Padahal dalam Islam, Nabi Isa AS adalah Nabi dan Rasul yang mengajarkan ajaran Tauhid bukan ajaran Trinitas yang penuh dengan kepalsuan dan kebohongan tersebut. “Paus Benedictus XVI sendiri mengakui Hari Natal (tanggal kelahiran Yesus) bukan tanggal 25 Desember, sehingga Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember,” ungkap Kristolog Hj Irena Handono dalam diskusi mengenai Kristologi di Kantor Pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jakarta, Selasa (22/1). Diskusi dibuka Wakil Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKsPPI), KH Cholil Ridwan Lc. Direktur Irena Center yang mengaku pernah berkunjung ke Vatican itu menyebutkan bukti pernyataan Paus itu tertuang dalam buku: “Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives”, yang dirilis pada 25 November 2012 lalu di Vatican. Dengan demikian, kalau selama ini umat Kristen merayakan Natal pada 25 Desember, berarti salah besar. Di kalangan para pemimpin Kristen sendiri sebenarnya terjadi keragu-raguan. Sebab ternyata penetapan Hari Natal 25 Desember merupakan kesepakatan para pemimpin Gereja waktu itu, karena mereka sendiri tidak mengetahui kapan kelahiran Yesus (Nabi Isa AS) tersebut. “Bahkan mereka juga berbeda pendapat, dimana Yesus dilahirkan, apakah di kandang domba, goa ataukah dibawah pohon cemara sebagaimana dilambangkan dengan pohon Natal selama ini,” ujar Hj Irena Handono. Kelahiran Nabi Isa AS Menurut Hj Irena Handono, Kitab Suci Al Qur’an telah menerangkan dengan sangat tepat dan benar akan kelahiran Nabi Isa AS, seperti yang dijelaskan pada Surat Maryam (19) ayat 23, 24 dan 25. “Maka tatkala rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.(23). Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. (24). Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (25). Dengan keterangan Al Qur’an yang pasti benar ini, maka tertolaklah semua argumen umat Kristen tentang Hari Natal, dimana dikatkan Yesus lahir pada 25 Desember di Betlehem pada musim salju. Padahal pada musim dingin, pohon kurna jelas tidak mungkin berbuah, dan hanya akan berbuah pada musim panas yang terjadi antara akhir Juni sampai akhir September. Didalam Al Qur’an juga disebutkan Siti Maryam (Ibu Nabi Isa AS), ketika akan melahirkan bersandar di pangkal pohon kurma dan dibawahnya ada sungai yang mengalir. Hal itu menunjukkan kelahiran Nabi Isa AS bukan pada musim dingin karena sungainya tidak beku. Demikian pula kalau selama ini ada anggapan Nabi Isa AS lahir dibawah pohon cemara, jelas suatu kebohongan besar. Sebab pohon cemara tidak mungkin hidup di Yerusalem. Al Qur’an telah menyebutkan Nabi Isa AS lahir dibawah pohon kurma, bukan cemara. “Jadi yang benar adalah Yesus lahir dibawah pohon kurma pada musim panas, bukan lahir dibawah pohon cemara atau kandang domba atau goa. Yesus lahir bukan pada musim dingin sebagaimana selama ini diperingati sebagai hari Natal, tetapi pada musim panas di Yerusalem,” tegas mantan biarawati yang telah menghasilkan banyak buku mengenai Kristologi tersebut. (*)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar